Jumat, 03 Mei 2013

Hanya Rp 1,6 Juta, Power Honda Blade Naik 5 DK!





OTOMOTIFNET - Tampilan Honda Blade tergolong sangat sporti, karena desain terinspirasi dari superbike Honda, CBR 1000RR. Bicara performa pun cukup mengagumkan, terbukti di balap Tanah Air mulai sering tampil di podium.

Namun dalam kondisi standar, ternyata lajunya kurang bisa memenuhi hasrat pemakainya yang kebanyakan kawula muda. Seperti diungkap salah satu pemilik bernama Boze, “Tenaganya kurang galak.” Sama juga disampaikan motormania pemilik Blade di email Mr. Testo (mr.testo10@gmail.com) dan wall facebook (Tester Otomotif).

Nah agar performa sesuai sama penampilan, pria yang tinggal di kawasan Tanjung Priok, Jakut, mengupgrade performa mesinnya. Biar hasilnya sesuai harapan, diserahkan pada salah satu mekanik yang cukup terkenal di dunia balap, yaitu Deny Manshur.

Biasa mengoprek besutan balap, mekanik dari bengkel Clinic Motor (CM) ini dengan mudahnya menaikkan kemampuan mesin. Tercatat dalam kondisi standar hanya 6,6 dk/7.000 rpm dan torsi 5,54 Nm/5.400 rpm, setelah dimodif jadi 11,7 dk/8.800 rpm dan 10,12 Nm/7.200 rpm. Pengukuran pakai dynamometer Dyno Jet tipe 250i.

Artinya naik sebesar 5,1 dk dan 4,58 Nm. Menariknya dana yang dibutuhkan tergolong bersahabat, jika ditotal hanya berkisar Rp 1.624.000! Apa saja sih ubahannya? Yuk dibongkar!

Pelepas Gas Buang Pakai Rancangan DD Knalpot

Klep Pakai Sonic, Dipilih karena batang lebih panjang
Blok Silinder & Piston
Menaikkan kapasitas silinder menjadi pekerjaan pertama. Piston standar berdiameter 50 mm diganti pakai milik Kawasaki Kaze (53 mm), sehingga volumenya jadi 122,6 cc. Pemasangan mesti mengganti boring.

“Puncak piston dipapas 1 mm dan coakan klep diperdalam 3 mm agar tak benturan sama klep,” ujar mekanik  disapa Komeng ini. Kompresi dipatok 11,7:1, jadi minimal pakai Pertamax.

Kepala Silinder
Diubah demi memperbanyak dan memperlancar bahan bakar ke ruang bakar. Caranya cukup menghaluskan saluran inlet dan exhaust. Oh iya, karburator tetap pakai bawaan motor namun pakai filter aftermarket.

Noken As & Klep
Lift dinaikkan dengan memapas bagian pantat sebanyak 1,5 mm, lalu durasi dibikin 268ยบ. Pasangannya pakai klep Honda Sonic yang payungnya diperkecil jadi 26 dan 22 mm. “Dipilih karena tangkainya panjang, sehingga meski kem dipapas setelan klep standar bisa dipakai,” lanjut mekanik yang masih melajang ini. Lalu per klep pakai milik Suzuki Smash yang menurutnya lebih keras dan panjang.

Knalpot
Biar plong pakai tipe freeflow. “Buatan DD Knalpot, rancangannya sesuai karakter mesin yang bertenaga di putaran menengah ke atas,” lanjut mekanik yang bengkelnya bermarkas di Jl. Squadron No.14, Halim, Jaktim.

Pengapian
Ubahan pada bagian ini sangat simpel, hanya pakai CDI aftermarket yang timingnya lebih advance. 

Sumber: www.motor.otomotifnet.com

Kamis, 02 Mei 2013

SERBA-SERBI KOIL OEM


Peran koil amat menentukan dalam optimalisasi kinerja sistem pengapian. Jadi wajar bila banyak produsen aftermarket yang melirik part ini sebagai peluang bisnis menjanjikan selain busi, CDI atau pun booster. Misal Blue Thunder, Kitaco, CLD, Kawahara, Nology dan lainnya.
Tapi beberapa kasus pemakaian produk ini ada yang sukses dongkrak performa, ada juga yang tak berpengaruh. Sebab dari beberapa keluhan yang kami terima bilang mengalami masalah pada motornya akibat peranti ini. Baik itu motor lama-lama jadi susah hidup, atau lari motor jadi gak enak setelah menggunakan koil racing.
“Sebab peranti ini mesti sinkron sama CDI yang dipakai. Bila tidak, percikan api yang dihasilkan malah tak sesuai harapan. Karena banyak faktor pada koil yang mesti bersinergi terhadap CDI. Mulai input yang diterima, besarnya impedansi pada koil dan lainnya,” beber Tommy Huang, bos PT Trimentari Niaga, produsen CDI BRT.
Makanya buat balap, jarang sekali pakai koil aftermarket. Meski pun ada, biasanya itu setelah nemu settingan yang pas terhadap peranti pengapian lain. “Kebanyakan pada pakai koil YZ 125 termasuk kami. Karena dari uji coba beberapa koil, hasil terbaik yang kami dapat waktu pakai koil ini,” urai Marsudi, tunner Stebo Racing di Kebon Jeruk, Jakbar.


Oh iya, koil YZ 125 bukan koil aftermarket. Melainkan koil bawaan pabrik untuk motor special engine Yamaha. Dan peranti pengapian YZ ini juga belum tentu matching dipakai di semua motor, lo.
“Paling benar dan aman tetap pakai koil standar bawaan motor. Sebab produk OEM dirancang mengusung standar mutu dan tingkat keamanan paling tinggi dibanding produk aftermarket. Karena peranti ini termasuk salah satu critical item part yang menyangkut safety juga,” jelas Tommy.

Maksudnya, dalam memutuskan mengganti part ini sebaiknya mempertimbangkan segi keamanan pula. Apalagi bila aplikasinya buat harian. “Karena banyak bagian pada koil yang rentan termakan keausan lantaran mengalami berbagai kondisi. Seperti kena panas mesin, air cucian dan lainnya yang lama-lama bisa memicu masalah” lanjut Tommy.
Lain hal jika motor hanya dipakai balap atau kompetisi, boleh aja pakai koil aftermarket bila memang terbukti bisa meningkatkan performa dapur pacu. Atau kalau mau aman tapi bisa dapat khasiat yang diinginkan, akali dengan koil motor lain yang mampu menghasilkan performa lebih baik.

Toh dari hasil riset Tommy pada beberapa koil, baik bawaan motor maupun produk aftermarket, ternyata yang mampu melipatgandakan setrum cukup baik jatuh pada koil Honda Karisma.
“Dengan input 100 Volt, koil ini mampu menghasilkan 
- Karisma (35.000 Volt). 
- Supra Fit Old (32.000 Volt), 
- Kawasaki Kaze dan YZ 125 (30.000 volt),” 


Sumber : Otomotifnet.com

Sabtu, 27 April 2013

SOKET CDI PADA SEPEDA MOTOR


DAFTAR CELAH KLEP PADA SEPEDA MOTOR


MOTOR HONDA
KLEP MASUK
KLEP BUANG
Supra, Astera
Supra x 125, Karisma
Revo, Blade
GL, Tiger
Beat, Spacy, scupy
Vario
Variop Tecno 125
Mega Pro
Cs1
CBR 250
0,05
0,03
0,10
0,10
0,15
0,15
0,12
0,10
0,06
0,16
0,06
0,03
0,10
0,10
0,15
0,25
0,24
0,12
0,27
0,16
MOTOR YAMAHA
KLEP MASUK
KLEP BUANG
Vega, Jupiter Z
Mio
Jupiter MX
Vixion
Scorpio
Xeon

0,06
0,06
0,06
0,10
0,08
0,10
0,07
0,08
0,06
0,10
0,13
0,10

MOTOR SUZUKI
KLEP MASUK
KLEP BUANG
Smash, Shogun
Spin, Skywave
Thunder 125
0,05
0,08
0,10
0,06
0,10
0,10

Komparasi Koil Motor

MERK Sec Resistance(Kohm) Primary Resistance(Ohm) Panjang Api(Cm) Keterangan tambahan
A. Yz 125 A 8.53 0.3 2.79
B. Yz 125 B 8.65 0.2 2.62
C. Protec UG 8.25 0.6 1.90 / 2.43 (ground / without ground)
D. Scorpio 5Bp 7.71 0.3 2.06 / 2.14  (Without Ground(bocor) / Ground / Without Ground(koil kodokan))
E. Tiger 13.93 0.8 1.88
F. Supra 12.7 0.9 1.88
G. Protec Biru 5.55 0.4 2.00
H. Xp 2a 8.53 0.3 1.81 / 1.49  (versi lama / versi baru)
I. Nology 0.3 3.06 0.3 1.71
J. Scorpio 4us 7.94 0.3 2.24
K. Thunder 125 13.72 4.1 1.16
L. TEC KP05 13.9  2.4 1.80
M. TEC MP06 14.64 2.9 1.78
N. Vixion 10.86 2.3 1.11
O. X1 Prototype 6.96 0.3 2.44
P. X2 Prototype 7.12 0.4 2.45
Q. Feroza 2.63  1.4 2.38
R. Kaze 7.56 0.8 1.96
S. Skywave 6.61 0.4 2.35
T. Ninja RR 6.26  0.1 2.02  (sedikit kebocoran)
U. Pulsar  4.98 0.4 2.11
V. Protec U 8.21  0.5 2.30
W. TCI Protec. 8.72 2.4 1.39

Spek Koil Motor Seperti Apa Yang Lebih Bagus?

Tangerang - Banyak pendapat soal koil. Katanya, kalo menghasilkan api gede, pembakaran akan bagus.  Sementara yang lain bilang, kalo apinya biru justru lebih baik. 

Menurut Freddy A. Gautama, juragan Ultraspeed di Jl. Cipto Mangunkusumo No.42, Ciledug (Jl. H. Mencong), Tangerang bahwa kemampuan bakar percikan api di busi (hasil pelipatgandaan tegangan dari CDI oleh koil) yang baik bukan ditentukan  besar kecilnya atau warna percikan api. 
  
“Tapi oleh energi panas yang dihasilkan percikan apinya. Kian tinggi energi panasnya, maka akan makin baik kemampuan membakar kabut gas di ruang bakar,” katanya. Intinya, dalam usaha meningkatkan performa mesin lewat koil, usahakan pilih yang punya kemampuan menciptakan api dengan energi panas lebih tinggi. 

“Koil macam ini, umumnya terdapat pada koil motor-motor special engine (SE). Seperti punya Yamaha YZ 125 atau YZ 250, Suzuki RM dan beberapa koil aftermarket dengan spek kompetisi,” ujar Andy Soetomo, ayah Freddy yang juga salah satu ‘pemasok’ koil high performance buat mobil dan motor merek Protec. 

Koil yang locatan apinya punya energi panas tinggi bisa cepat membakar kertas seperti ini 
Wajar kalau koil-koil SE kerap diaplikasi para mekanik balap. “Koil ini (SE) apinya gak gede dan juga gak berwarna biru. Masih ada merahnya. Tapi energi panasnya tinggi,” tukas Freddy. Lantas bagaimana cara mengetahui energi panas yang dihasilkan oleh percikan api dari koil itu? 

“Cara paling simpel yakni pakai kertas. Sisipkan di antara loncatan api di busi. Kalau koil  itu punya loncatan api dengan energi panas tinggi, maka kertas akan cepat terbakar. Sedang secara teknis, ya langsung saja diuji peningkatan performa yang dihasilkan koil itu lewat pengukuran dyno,” jawab Freedy. 

Nah, kebetulan Ultraspeed punya alat peraga uji loncatan api yang dihasilkan koil. Yuk kita coba buktikan apa benar koil-koil SE punya energi panas lebih baik dari koil standar motor. Para meter pembuktiannya, kita lihat koil mana yang mampu membakar kertas lebih cepat. Dihitung pakai stopwatch. 

Oh iya, koil SE yang jadi kontestan; punya YZ 125 dan YZ 250. Sedang koil standar bawaan motor antara lain koil Suzuki Smash, Yamaha Mio (kode: 5TL), Honda Tiger Revo dan punya Binter Mercy (belakangan banyak dipakai pembesut Kawasaki Ninja 250). Hasilnya silakan lihat boks Data Hasil Pengujian Energi Panas. 

Sementara untuk pembuktian lewat pengukuran dyno, koil SE yang digunakan hanya YZ 250. Sedang koil standarnya pakai punya Smash. Motor yang dijadikan bahan praktiknya Suzuki Shogun 110 yang sudah di-bore-up jadi 125 cc pakai piston Thunder 125. 
“Tapi saran saya, kalau pakai koil dengan percikan api yang energi panasnya tinggi, suplai gas dari karburator sebaiknya dibikin agak basah untuk mendapatkan hasil  lebih maksimal. Karena logikanya dengan kemampuan bakar yang lebih tinggi, walau suplai gasnya ditambah dikit tetap percikan api di busi masih mampu membakar gas dengan baik,” saran Freddy. 

Bisa dilakukan dengan menaikkan ukuran pilotnya saja satu step, atau sekrup udara agak ditutup sedikit. “Bila tanpa setting ulang karburator, hasilnya biasanya tidak begitu signifikan peningkatan tenaganya,” tambahnya. Oke, hasilnya silakan lihat Data Hasil Pengukuran Dyno.(motorplus.otomotifnet.com) 

 Data Hasil Pengujian Energi Panas  
 Koil  Lama membakar kertas
 Yamaha Mio  7,20 detik
 Suzuki Smash  7,78 detik
 Honda Tiger Revo  4,56 detik <***>
 Binter Mercy  7,49 detik
 YZ 125  3,73 detik
 YZ 250  3,36 detik
 Data Pengukuran Dyno  
 Koil Max Power  Max torque
 STD Smash    8,402 dk / 7.822 rpm    8,339 Nm / 6.275 rpm
 YZ 250 8,439 dk / 7.906 rpm 8,305 Nm / 6.701 rpm

Oprek Pengapian, Bisa Pilih Yang Orisinal(CDI shogun kebo, dan pio, serta koil 5bp scorpio).




Pengapian yang sering dipakai di balap, terutama CDI, bukan jadi favorit awak komunitas. Bikers lebih memilih part pengapian yang berasal dari bawaan pabrik alias komponen ori kuda besi yang lain. Pengalaman dirasakan beberapa awak komunitas setelah menggunakan CDI aftermarket.

“CDI untuk balap terasa pengaruhnya, tapi cuma bagus pas jarak pendek aja. Kalau sudah jarak jauh, apinya seperti putus-putus. Sepertinya CDI yang aftermarket enggak tahan dengan goncangan terus menerus pas turing jarak jauh.Beda banget dengan CDI kanibal dari merek lain, tapi yang genuine,” kata Rudi Jerong yang dikenal spesialis Honda Tiger tune up untuk kawasan Karawang, Jawa Barat.

Karena itulah, Rudi lebih memilih CDI dari Suzuki Shogun di bawah tahun 2000. Shogun tahun segitu dikenal dengan nama Shogun Kebo (Kerbau, red). Disebut kebo karena Shogun yang diproduksi sebelum tahun 2000 tampak depannya seperti kerbau.

“Rpm bisa lebih tinggi dibanding yang CDI Tiger. Terus, apinya stabil dibanding CDI balap yang aftermarket,” kata Rudi.

CDI Shogun kebo berlabel Sindingen. Ingat juga brother CDI ini juga bukan cuma diincar sobat-sobat komunitas Tiger. Tapi, kawan-kawan pengguna Suzuki Satria FU150 pun mengincarnya.

Harga CDI Shogun kebo antara Rp 250 ribu-Rp 300 ribu. Akan lebih mahal sekarang ini karena barangnya yang terhitung langka. Kalau pun dapat, asalnya dari copotan alias barang second.

Pengguna Yamaha Scorpio agak berbeda. Mereka lebih mencari komponen pengapian dari generasi sebelumnya. Misalnya, CDI Pio, julukan Scorpio, yang diproduksi tahun 2001-2004 dianggap bisa bikin rpm lebih tinggi. Harganya lebih dari Rp 400 ribu.

“Bisa sampai red line. Berbeda dengan CDI setelah 2004. Lebih dari 9.000 rpm mesin sudah ketahan,” kata Iwan Nurohman yang bermarkas di kawasan Jl. KS. Tubun, Jakarta Barat.


Scorpio-Z yang dibikin 2005 dibilang Iwan ada komponen pengapian yang diincar. Koilnya banyak dicari karena dianggap menghasilkan api busi yang lebih besar.

Kode koil Scorpio-Z produksi 2005 5BP, sedangkan koil 2001-2004 dan 2006 sampai sekarang berkode 4US.